Detail Katalog
ID: 45901
Tuhan pun Ahli Memaki – Hosabi versi Kasidi 01-50
Koleksi Digital iKalsel
Buku ini tersedia secara digital dan dapat langsung dibaca secara online.
Pengarang
Tri Budhi Sastrio
Penerbit
Jejak Publisher
Tahun Terbit
2024
Platform Buku
Subjek
Agama
Spesifikasi Katalog
ISBN
978-623-498-766-9
Control Number
INLIS000000000019751
BIB ID
0010-1026000217
Catatan
Essi ini ditulis karena ada janji versi Kasidi
Yang ditulis di Hosabi 48 tentang kota suci.
Kota memang kota suci tapi dendam benci
Merasuk ke tulang sumsum serap inti energi.
Cinta Kasih empati pun sirna bak embun pagi
Yang tersisa tinggal ampas pahit tungku besi
Yang baranya meretas jaring dendam benci,
Jadi pemantik kobaran api pembakar nurani
Untuk membenci si utusan sorga yang nabi
Yang juga dinyatakan langsung si Putra Ilahi.
Sang Putra si Anak Manusia taat BapaNya
Kala diputuskan harus mati di kota nan jaya
Dengan tegar langkah diarahkan ke ini kota
Kala waktunya makin dekat dan segera tiba.
Keputusan telah dibuat, tekad membaja jiwa
Terus saja membara, untuk taat serta setia
Pada keputusan si penguasa alam semesta.
Seorang murid yang coba cegah Dia ke sana
Dibentak dan dihardik dianggap hanya bisa
Berpikir ala manusia lupa Allah yang utama.
Tuhan melangkah gagah tidak gentar rasa
Hukuman mati memang menanti Dia di sana
Tetapi kan memang itu tujuan Dia ke dunia?
Mati di Yerusalem untuk tebus dosa manusia
Seperti yang diperintahkan Sang Mahakuasa.
Datang tunggangi keledai yang masih muda
Pertanda akan dielu-elukan bak raja dunia
Walau sesungguh Dia itu raja alam semesta
Yang kelak akan menjadi hakim satu-satunya
Pengadil semuanya entah sorga entah neraka.
Drama pun membelah tembok-tembok kota,
Hunjam tepat langsung inti benci membara
Karena memang harus seperti itulah adanya
Agar apa yang dinubuat para nabi dulu kala
Semua terjadi semua terpenuhi tanpa sisa.
Terbilang di antara durjana, salah satunya,
Dan itulah yang terjadi di Yerusalem jaya.
Pernah dua kali rata dengan tanah ini kota,
Akan rata lagi kala Tuhan tiba yang kedua.
Belasan kali dikepung belasan kali durhaka
Belasan kali pula direbut kembali guna jaya.
Itu kota yang konon kabarnya tak akan bisa
Seorang nabi terbunuh, kalau tidak di sana.
Sejarah panjang kota tetap gemuruh berjaya
Menunggu kelak bila masanya pastilah tiba
Untuk nanti kembali runtuh tanpa sisa tatkala
Nabi mulia untuk kedua kalinya datang tiba,
Menyapa slogan berserah kala tiba masanya.
Yerusalem, Yerusalem, seru Dia bertalu-talu,
Tanda rindu menggebu guna kumpul menyatu
Dengan putra-putri pilihan yang lupa mengaku
Bahwa mereka dulu dipilih guna terus berseru
Bahwa hanya kepada Bapa yang satu menuju.
Yang ditulis di Hosabi 48 tentang kota suci.
Kota memang kota suci tapi dendam benci
Merasuk ke tulang sumsum serap inti energi.
Cinta Kasih empati pun sirna bak embun pagi
Yang tersisa tinggal ampas pahit tungku besi
Yang baranya meretas jaring dendam benci,
Jadi pemantik kobaran api pembakar nurani
Untuk membenci si utusan sorga yang nabi
Yang juga dinyatakan langsung si Putra Ilahi.
Sang Putra si Anak Manusia taat BapaNya
Kala diputuskan harus mati di kota nan jaya
Dengan tegar langkah diarahkan ke ini kota
Kala waktunya makin dekat dan segera tiba.
Keputusan telah dibuat, tekad membaja jiwa
Terus saja membara, untuk taat serta setia
Pada keputusan si penguasa alam semesta.
Seorang murid yang coba cegah Dia ke sana
Dibentak dan dihardik dianggap hanya bisa
Berpikir ala manusia lupa Allah yang utama.
Tuhan melangkah gagah tidak gentar rasa
Hukuman mati memang menanti Dia di sana
Tetapi kan memang itu tujuan Dia ke dunia?
Mati di Yerusalem untuk tebus dosa manusia
Seperti yang diperintahkan Sang Mahakuasa.
Datang tunggangi keledai yang masih muda
Pertanda akan dielu-elukan bak raja dunia
Walau sesungguh Dia itu raja alam semesta
Yang kelak akan menjadi hakim satu-satunya
Pengadil semuanya entah sorga entah neraka.
Drama pun membelah tembok-tembok kota,
Hunjam tepat langsung inti benci membara
Karena memang harus seperti itulah adanya
Agar apa yang dinubuat para nabi dulu kala
Semua terjadi semua terpenuhi tanpa sisa.
Terbilang di antara durjana, salah satunya,
Dan itulah yang terjadi di Yerusalem jaya.
Pernah dua kali rata dengan tanah ini kota,
Akan rata lagi kala Tuhan tiba yang kedua.
Belasan kali dikepung belasan kali durhaka
Belasan kali pula direbut kembali guna jaya.
Itu kota yang konon kabarnya tak akan bisa
Seorang nabi terbunuh, kalau tidak di sana.
Sejarah panjang kota tetap gemuruh berjaya
Menunggu kelak bila masanya pastilah tiba
Untuk nanti kembali runtuh tanpa sisa tatkala
Nabi mulia untuk kedua kalinya datang tiba,
Menyapa slogan berserah kala tiba masanya.
Yerusalem, Yerusalem, seru Dia bertalu-talu,
Tanda rindu menggebu guna kumpul menyatu
Dengan putra-putri pilihan yang lupa mengaku
Bahwa mereka dulu dipilih guna terus berseru
Bahwa hanya kepada Bapa yang satu menuju.
Status Katalog
Tersedia di OPAC
Bibliografi Nasional Indonesia
Karya Tulis Ilmiah Nasional
Akses Buku Digital iKalsel
Tersedia untuk Dibaca di iKalsel
Katalog ini merupakan koleksi buku digital (e-book) yang dapat diakses langsung oleh pemustaka melalui aplikasi atau portal iKalsel. Anda tidak memerlukan eksemplar fisik di perpustakaan.
Buka & Baca Buku Sekarang